Selasa, 30 Desember 2014

Gendis

Apa yang hendak kuceritakan di sini? Seorang wanita buta yang memangku rembulan? Tidak.Kesannya tidak seflamboyan itu. Menarik. Itulah satu kata sederhana yang menggambarkan seperti apa dirinya.
Saat itu aku sedang makan di angkringan Kang Irul ketika kemudian dia mencomot gorengan dari tumpukan.
“Gimana tugas buat besok?”
“Eh, maaf?”
“Tugas statistik. Kita sekelas, bukan?”
Aku tahu betul kami ambil mata kuliah yang sama. Apa yang membuatku terkejut adalah kenyataan bahwa gadis dengan reputasi sangat angkuh, sudi menyapaku lebih dulu.
Apa yang terjadi di bawah payungan tenda biru angkringan Kang Irul sore itu, mengubah persepsiku mengenainya. Entah bagaimana caranya, obrolan mengalir sedemikian lancar saat itu dan hari-hari selanjutnya. Penilaian kawan-kawanku ternyata keliru, Gendis bukanlah seperti yang mereka pikirkan. Dirinya seperti kamus berjalan, segala hal ia ketahui. Dari Lenin sampai keluarga Bakrie, Shakespeare sampai Goenawan Mohammad, sebut saja. Apa yang kutangkap darinya adalah keganjilan dari simbol Bulan Trilipat; sosoknya masih gadis tapi kedewasaannya sampai pada fase nenek yang menggambarkan kebajikan dan ketenangan.
Dia seolah menutup mata pada remeh temeh kehidupan mahasiswi seumurannya yang kerap disibukkan dengan baju bagus atau dandanan genit. Jika dirinya diwakilkan oleh Mumtaz, maka aku lebih menyukai kisah mengenai Taj dalam versi drama yang disutradarai M Sayeed Alam. Bahwa Taj adalah monumen untuk mengingatkan betapa dirinya merupakan sosok tangguh yang harus ditaklukan, dan untuk itu Shah Jahan harus menatapnya dengan gentar dan gemetar.
Gendis membuatku tak berdaya sekaligus bergairah dalam waktu yang sama.
“Tehnya lagi, Nang?”
Suara Kang Irul membuyarkan lamunanku. Kuiyakan tawaran Kang Irul, sementara ingatanku mengembara pada kejadian dua hari lalu.
“Kau mau jadi pacarku?” tanyaku langsung saat dia sedang memilih baju batik. Dia menatapku tajam sebelum dengan enteng menimpali.
“Bukankah dengan modal tampang ‘bagusmu,’ kau bisa ngedapetin Sheila, si bintang kampus?”
“Sebenarnya … aku pernah jalan sama dia.”
“Ohhh … Don Juan,” ledeknya sinis bercampur jahil.
“Don Jon tepatnya.” Aku meringis sedangkan dia membelalak sebelum terbahak. Tawanya keras sekali seperti preman Tanah Abang. Kubiarkan dia tenggelam dalam gelak, sungguh pemandangan yang nikmat. Setelah beberapa saat dan perhatian para pejalan Malioboro tidak terarah lagi padanya, akhirnya dia berkata.
“Bukan tawaran mudah.”
“Maksudmu?”
“Aku perlu waktu berpikir.”
Sorot matanya saat mengatakan hal itu membuatku gemas dan takut. Patah hati merupakan hal paling mengerikan bagiku yang jarang menerima penolakan. Sisa waktu selanjutnya kuisi dengan kecanggungan luar biasa, namun tidak bagi gadis satu ini, tidak ada hal yang membebaninya nampaknya. Dia memintaku untuk menunggu, dan pesan singkatnya tadi pagi, membuatku kelabakan bukan main.
Satu tepukan pada punggung membuatku menoleh.
“Lama nunggunya?” Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihatnya. Kemudian dia duduk di sebelahku.
“Jadi gimana?” Kukutuki suaraku yang serak.
“Aku gak bisa jadi pacarmu,” katanya datar. Secepat remuknya hatiku, secepat itu pula dia membuatku melayang.
“Mulai saat ini, kau harus berkomitmen untuk jadi calon suamiku. Suami merupakan kata kelam dalam kamus hidupku.”
Aku bisa sedikit mengerti apa yang ia maksudkan. Kesedihan dalam kalimatnya adalah masa lalunya, dan aku bersumpah untuk tidak mengecewakannya. Kugenggam tangannya, dan dia menatapku dengan lembut.

Minggu, 28 Desember 2014

Kisah Cinta Putri Nikirana

Negeri Kincir itu berdiri megah di atas awan. Lampu kristal menghias indah mengelilingi istana. Sebuah kamar dirancang khusus, dindingnya penuh ukiran wajah seribu bidadari. Dengan balutan selendang sutera seolah-olah mengajak menari menghibur diri, sepanjang hari. Di depan istana ada taman yang mahaluas, rimbun penuh bunga melati.
Tetapi, semua itu tidaklah membuat Putri Nikirana bahagia. Sang Raja, tak lain adalah Ayahandanya. Selalu melarang jika ia hendak turun ke bumi.
”Ayahandaku, izinkanlah Ananda untuk pergi ke telaga cinta bawah sana.” Putri Nikirana menitikkan air mata saat permintaannya tak dikabulkan.
”Bukankah sudah kubuatkan kolam indah seperti telaga cinta itu. Kenapa masih ingin ke bumi yang gersang tanpa pepohonan meneduhkan?” jawab Sang Ayah sembari menikmati teh melati bikinan Sang Permaisuri.
”Ibunda, Ananda ingin berjumpa dengan Legawa.” Kini ia beralih meminta izin dari Ibundanya.
”Dengarlah, Sayang. Sungguh, di bumi itu orang-orangnya licik. Mereka akan menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkanmu. Ingatlah! Kau adalah milik kami. Ayahandamu sangat menyayangimu.”
Setelah mendengar penuturan Ibundanya, Putri Nikirana semakin bersedih. Tak ada harapan lagi, pikirnya. Setiap hari ia hanya mengurung diri di kamar yang sepi. Senyum ceria seribu bidadari tak mampu mengobati luka hatinya.
Musim penghujan tiba. Di langit mendung-mendung itu bergelantung manja. Mereka memainkan anak-anak awan, menyatukannya menjadi gumpalan-gumpalan hitam berisi hujan air mata yang siap dijatuhkannya ke bumi. Dalam sedu-sedannya ia teringat akan janji pada Legawa.
’Ia bersedia menghabiskan hari-hari bersama.’
Pertemuan yang tak disengaja sebulan yang lalu, saat Putri Nikirana diajak Ayahandanya untuk mencari ramuan awet muda. Di saat melintasi hutan semak berduri. Kaki kuda yang membawa kereta kencana mereka tertancap duri hingga keretanya hampir terguling di sisi telaga cinta. Saat itu Legawa sedang mengumpulkan semak-semak kering yang akan dibawanya pulang untuk membuat perapian kala malam tiba. Ia melempar keranjang yang hampir penuh dengan semak keringnya itu. Ditariknya kereta kencana yang hampir saja terjebur ke dalam telaga.
”Hai, manusia bumi. Apa yang kauingini? Karena kau telah menolong kami. Maka semua permintaanmu akan kukabulkan.”
”Tidak, Tuan. Aku tak menginginkan apa-apa,” jawab Legawa memberikan senyum termanisnya. Saat itu Putri Nikirana tersentuh hatinya. Baru pertama menjumpai orang berhati suci. Membantu tanpa mau dibalas.
Sang Raja punya kelebihan, mampu menebak isi hati. Ia tahu Putri tercintanya telah menjatuhkan hati pada manusia bumi. Maka dengan segala cara ia berusaha menghalangi pertemuan mereka.
Salah satu cara untuk bisa menghentikan kekhawatiran akan putrinya adalah menjodohkannya dengan putra tunggal dari Raja Negeri Angin. Kebetulan Raja Negeri Angin sedang mencari menantu. Maka kesepakatan dua raja ini menyatukan putra-putri mereka. Juga menyatukan Negeri Kincir Angin.
Mengetahui ia telah dijodohkan tanpa persetujuan. Putri Nikirana mengunci diri.
’Ayahanda, Ananda tidak mau dipersunting selain Legawa. Ananda tahu, Ayahanda telah membinasakan Legawa saat ini. Ibunda telah menceritakan semuanya. Maka dari itu biarlah sekarang aku menjadi sabit di malam-malammu. Hanya di malam purnama kuizinkan engkau menjumpaiku. Saat itu, Ananda akan datang menerangi hatimu yang penuh kegelapan.’
Saat Sang Raja kembali dari bumi ia mendapati putrinya tergantung dengan selendang sutera dari salah satu bidadari yang diukirnya sendiri.

Jumat, 26 Desember 2014

Bulan Sabit di Malam Natal

Malam natal itu aku tidur lebih awal, sebab esoknya harus bangun paling pagi sebelum yang lainnya. Itu adalah kewajiban yang harus kulakoni sebagai anak perempuan tertua setiap malam natal. Aku harus membangunkan orang tua dan saudara-saudaraku dengan mengenakan baju putih, ikat pinggang merah dan mahkota yang berhiaskan sembilan lilin. Kemudian menyiapkan makanan untuk sarapan bersama dengan bercahayakan lilin.
Aku selalu takjub melihat cahaya lilin. Itu selalu mengingatkanku tentang pengorbanan, dimana lilin merelakan tubuhnya terbakar dan habis demi menerangi dunia. Aku selalu ingin menjadi lilin untuk keluargaku. Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaan mereka. Tetapi sejak kejadian malam gerimis itu, aku telah habis terbakar dan padam. Aku tidak bisa lagi menerangi kehidupan keluarga. Aku bahkan membawa kegelapan yang tak pernah datang sebelumnya. Akhirnya kuputuskan lebih baik pergi daripada menjadi kabut hitam yang membawa kegelapan. Malam natal ini pun aku sendiri. Tidak ada lilin, api, ataupun penerang dan penghangat lainnya. Yang ada hanya kegelapan yang kukandung.
"Tuhanku Yesus, jadikan dia lahir sebagai cahaya seperti bulan sabit itu bukan seperti lilin yang ketika tubuhnya habis terbakar hanya mendatangkan gelap dan tidak ada lagi cahaya yang dapat diciptakannya." Pintaku pada malam natal berbulan sabit ini dengan menahan sakit di perutku yang besar. Sakit yang teramat sangat. Walau kesendirian ini masih lebih menyakitkan.
Aku benar-benar telah keliru mengidolakan lilin. Karena dengan menjadi sepertinya, kini aku menjadi kegelapan. Kini aku benar-benar memuja bulan. Walau masih sabit, cahayanya mampu menerangi semua belahan dunia.
Tiba-tiba saja seperti ada gelombang besar yang mengamuk di perutku. Sakit. Kemudian kurasakan mulut rahimku terbuka dan gelombang dahsyat itu keluar. Sekejap saja aku melihatnya, cepat-cepat aku menutup mata. Tak percaya tapi sebuah cahaya memang keluar dari perutku.
Aku membuka mata tepat ketika cahaya yang terburai itu menyatu dan membentuk sebuah benda berbentuk sabit. Cahayanya kuning seperti cahaya bulan. Kutengadahkan kepalaku ke atas langit. Kulihat bulan sabit masih ada di atas sana. Lantas apa yang kini melayang tak jauh dariku?
"Aku anakmu ibu. Aku telah lahir seperti yang kau inginkan," ujar cahaya berbentuk bulan sabit itu benar-benar membuatku terperanjat. Cahaya itu bisa bicara dan mengaku sebagai anakku. Rasanya sungguh mustahil. Diam-diam kulirik perutku. Ya Tuhan, perutku memang sudah mengempis.
"Tidak, aku tidak percaya ini!" Kupukul-pukul kepalaku yang sedang tidak beres.
"Ibu, kau tidak suka aku lahir?" tanya cahaya itu kembali menyentakku. Tiba-tiba muncul Santa Claus dengan baju merah bercorak putihnya.
"Santa, kau datang?"
"Dialah anakmu, Clara! Ia telah lahir seperti yang kau inginkan. Ini hadiah natalmu dariku. Selamat merayakan natal!" Santa pun menghilang.
Aku menatap cahaya menyilaukan itu lagi, ia benar-benar menyita perhatian dan kesadaranku. Ia anakku.
"Kemarilah, Anakku! Aku ingin memangkumu," kataku kemudian. Ia telah memenuhi keinginanku, menerangi hidupku yang gelap. Tidak sepantasnya aku mengabaikannya.
"Tidak, Ibu!"
"Kenapa, Nak? Tidak maukah kau berada dalam pangkuanku?"
"Aku ingin sekali, Ibu. Tetapi aku tidak ingin melukai matamu dengan cahayaku yang terlalu menyilaukan untukmu."
"Baiklah aku akan menutup mataku dengan syal ini, Nak. Aku benar-benar ingin memangkumu, memelukmu," ucapku dengan terisak.
Kau anakku, Nak! Kau penerang hidupku yang gelap. Walau cahayamu bisa menyakiti mataku jika kau terlalu dekat denganku, aku tetap ingin kau dekat denganku. Dipangkuanku.

Rabu, 24 Desember 2014

Jikalau Bulan Sudah Purnama

Sudah tujuh belas tahun wanita itu memangku bulan. Bulan sabit yang terlahir dari rahimnya yang entah sudah dihamili oleh siapa. Ia begitu sayang, begitu perhatian, tak pernah lupa mencoret angka-angka di kalender jika bulan sabit telah melengkung di matanya. Itu adalah bukti bahwa kehadiran sebuah bulan sangat penting baginya.
Tak jarang, wanita itu dengan lugu menatap bulan sabitnya. Seperti sedang terjadi percakapan batin antara ibu dan anak atau wanita dan kekasihnya, sangat romantis. Malam baginya adalah taman-taman surga dibalut beberapa awan putih, tampak memesona seluruh penghuni angkasa. Ia tak memikirkan apa-apa, selain kehangatan dan kebersamaan yang tercipta di antaranya.
Jika dibilang cemburu, pastilah semua orang akan cemburu melihat betapa kebersamaan itu terjalin sangat kuat. Hujan pun tak sanggup memisahkan keduanya, apalagi lolong serigala malam yang hanya mengaum di saat-saat tertentu saja, saat lapar perutnya meronta-ronta untuk segera mencari mangsa, kemudian akan tidur dalam waktu yang cukup lama setelah merasa kenyang.
Semua cemburu, semua merasa tak senang, dan semua bedebah akan menyembunyikan muka aslinya di balik layar. Mereka hanya tahu kesenangan, pandai memilih jalan yang mulus, dan ‘sok’ menjadi pahlawan saat ada berita kehilangan berkumandang di seantero jagat raya. Bulan redup, bulan redup.
”Mereka itu siapa, Bu?” tanya si bulan sabit.
“Mereka orang yang sangat perhatian pada negeri ini, Nak,” jawab si wanita itu dengan lembut.
“Mereka itu nyata, ya, Bu?”
”Tentu saja, Nak. Mereka bahkan bisa berada di antara kita, termasuk dalam hati kita.”
Percakapan itu berlangsung lama, hingga wanita itu menggigil dirasuki bayangan orang-orang yang tak jelas dari mana asalnya. Ia sangat ingat betapa kebersamaan yang sudah lama tercipta dirusak begitu saja oleh orang-orang yang ‘pintar’ mencari peluang.
”Jika aku besar nanti, Bu, aku ingin cemburu.”
“Mau cemburu sama siapa, Nak?”
“Cemburu pada kelakuannya yang tak ada seorang pun mengingatkan.”
“Owalaaah. Sudahlah, Nak. Biarkan saja. Toh nanti juga tercium, bangkainya.”
“Mati, Bu?”
”Iya, mati, Nak. Dan sepertinya, Ibu dan bapakmu yang sudah terpisah lama ini sebentar lagi akan dipertemukan, kemudian akan tetap bersama selamanya dalam sebuah ritual kematian.”
Jika hidup untuk mati, jika bersama untuk berpisah, dan jika-jika yang lain sudah bermunculan satu per satu dalam pikiran sang bulan. Jika yang sangat mengganggu sekali keinginannya untuk tetap mekar di setiap angka yang berjajar di kalender, sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahun, dan itu tak mengubah apa pun yang ada dalam dirinya.
Wanita itu sudah semakin renta, memangku pun tak bisa. Sang bulan sudah purnama berusia ratusan tahun lamanya. Tentu saja sendirian, sebatang kara dan tak punya siapa-siapa lagi. Tetapi pelajaran untuk tidak takut kepada siapa-siapa adalah hal utama yang selalu diingat oleh sang bulan purnama. Hanya ada satu yang ia takutkan: gerhana. Saat semua-semua berpura-pura gelap seperti malam, berpura-pura lupa dalam sejekap, dan sang bulan selalu jadi korban.

Senin, 22 Desember 2014

Mimpi yang Kita Dambakan

Kerajaan ‘Kumo’ dan Kerajaan ‘Tsuki’, adalah dua buah kerajaan yang dahulu hidup damai. Namun, semua berubah ketika kedua kerajaan memperebutkan kekuasaan atas wilayah ‘Sora’, yang menjadi perbatasan dua kerajaan. Peperangan terus berlanjut selama lima tahun.
Tahun ini, menjadi babak akhir dari pertempuran berdarah ini. Sudah banyak korban tewas dari dua pihak, termasuk negeri yang kupimpin.
Aku dan Taiga, sang Raja dari kerajaan musuh kini berada di sebuah hutan yang jauh dari hiruk pikuk para prajurit yang saling bunuh. Menjadi tempat ideal bagi kami untuk mencurahkan isi hati, sekaligus pikiran.
“Taiga, hentikan ini semua! Aku tak ingin membuatmu terbunuh,” balasku kepadanya.
“Hana, sudah sewajarnya jika perang ini terus berlanjut. Aku tak akan segan melakukan pengorbanan ini semua,” balas Taiga.
“Apa maksudmu, Taiga?”
“Sudah jelas bukan saat kita muda dulu, kita pernah saling menyatakan cinta? Tidak, lebih tepatnya sudah menjadi kekasih.”
“Ya, aku ingat itu.”
“Tapi, karena status kerajaan kita yang sedang berperang dan perselisihan dari kedua orang tua juga yang membuat aku harus mengakhirinya.”
“Itu bukan karena kesalahanmu sendiri, Taiga. Tapi, inilah saatnya, untuk menghentikan perang ini.”
“Tidak, Hana. Jika kita melakukan itu, maka para prajuritku yang akan memberontak.”
Pelik memang permasalahan yang membelenggu dua kerajaan.
“Hana, kuakui jika memang sekarang kita telah sederajat. Sama-sama menjadi seorang raja dan ratu yang memerintah kerajaannya. Namun, itu tak berarti bisa menghentikan perang ini. Harus ada satu raja yang siap mengorbankan nyawanya.”
“Taiga, apakah kau telah buta...”
Aku merasa sedih dan kecewa. Betapa berat beban yang dipanggul olehnya. Aku ingin memikul beban bersamanya.
“Apakah kau masih ingat hari di saat aku diangkat menjadi raja? Ya, itu adalah bentuk penolakan yang dilakukan keluarga kerajaan terhadap rencana pernikahan kita.”
Aku semakin terkejut mendengarnya. Tak kusangka, rencana pernikahan, yang juga bisa menjadi akhir dari pertempuran, malah tidak disetujui oleh keluarganya.
“Dan setelah itu, aku harus mengkhianati cinta ini, dengan menikahi gadis dari kerabatku, yang sekarang menjadi permaisuriku.”
“Yah, tak apa. Mungkin memang takdir kita akan berakhir seperti ini.”
Pedang telah kami genggam masing-masing. Kami berdua telah siap untuk kemungkinan terburuk.
“Maafkan aku, Hana. Mungkin aku telah menjadi lelaki terburuk yang pernah kau cintai...”
“Tidak, Taiga. Kau tetap satu-satunya lelaki terbaik yang kucintai selama ini.”
“Kalau begitu, bersiaplah, Hana. Aku tak akan segan lagi.”
“Ya, Taiga, kuterima tantanganmu.”
Kami berdua pun mulai melancarkan serangan. Ayunan-ayunan pedang itu terus mengincar tubuh kami. Dengan cepat, kami menghindarinya. Kedua pedang yang sangat ganas memburu mangsa penggunanya, mencari celah dan menerkam musuh, demi menunjukkan siapa penakluk sesungguhnya. Tarian-tarian pedang yang terbentuk anggun, serta suara denting pedang yang bergesekkan, terdengar sendu dan merdu, untuk menghapus kesedihan ini. Bunga-bunga api ikut menemani, bersiap menyambut perpisahan di antara kami.
Semua itu pada akhirnya muncul. Mata pedangku mengenai tulang rusuk kirinya, mengenai jantungnya tepat, hingga menembus punggung. Aku yang tak akan menyangka dengan ini, pada akhirnya menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan aku, Taiga...”
Taiga tersenyum kecil. Ia pun membisikkan beberapa kata kepadaku.
“Terima kasih telah menghentikanku, Hana. Kutitipkan Kerajaan Tsuki kepadamu. Wujudkanlah mimpi yang dahulu kita dambakan...”
Ia pun menyelesaikan pembicaraannya, disertai hembusan napas terakhirnya.

Sabtu, 20 Desember 2014

Guguak Tempat Aku Bermula

pagi datang membangunkan alam
fajar malu malu menyibak gelap
sinar mentari masih semu di ufuk Timur
bumi masih berselubung kabut pekat
embun berkilauan di ujung ujung daun
bak manik manik dalam untaian
hawa dingin menusuk gigilkan tulang
membekukan rasa dan setiap raga
burung burung berisik memecah kesunyian
meninggalkan sarang di puncak puncak pohon
meninggalkan tenggeran di ranting dahan
berterbangan menuju ladang ladang berkah Tuhan
riuh bertambah terasa ketika pagi semakin terang
ketika hamba hamba mulai mengais rejeki
dalam hamparan bumi penuh berkah
rahmat yang telah disediakan Allah SWT
gemericik air jatuh di kolam kolam
mengalirkan air kehidupan
buat hamba hambaNya hidup
yang bersyukur maupun yang kufur
oh, indah benar terasa di jiwa
alam pedesaan nan murni
desa tempat darah ibuku tumpah
ketika melahirkan aku kedunia ini
Guguak, itulah nama tempatnya
tempat yang permai penuh panorama
di lingkungi bukit sekelilingnya
dalam lembah gugusan Bukit Barisan
desa tempat berjuta jejak telapak kakiku
tempat aku dibesarkan hingga remaja
tempat berjuta asa dan cita cita kupendam
tempat cinta dan rasa yang tak pernah mati

Kamis, 18 Desember 2014

Rumah Langit

Adit nama bocah kecil itu. Usianya baru 11 tahun, namun tugasnya sama dengan orang dewasa lainnya. Mencari nafkah, mengurus rumah dan menguris sang nenek yang sudah renta. Adit adalah cucu satu-satunya dari nenek Masnah. Orangtua Adit sudah meninggal dunia. Hanya nenek Masnah lah keluarga yang dia miliki. Sarif : ayah Adit, adalah anak nenek Masnah satu-satunya. Sedangkan ibu Adit tidak diketahui dimana keluarganya.
Di rumah gubuk ini Adit dan nenek Masnah tinggal bersama. Dalam suka dan duka. Penuh kekurangan dan kesusahan. Beban hidup Adit bertambah dengan kondisi nenek Masnah yang sudah renta. Beliau hanya bisa terbaring ditempat tidur. Usianya memang sudah tua sekiat 80an. Sudah tidak memiliki banyak tenaga unuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Adit lah yang melakukan semua pekerjaan. Cucu yang selalu dia banggakan. Nenek Masnah selalu berdoa pada Tuhan, agar Tuhan merubah nasib cucunya dengan lebih baik lagi. 
Pagi hari sebelum berangkat sekolah Adit menyiapkan segala sesuatunya, sehingga tidak menyusahkan nenek Masnah di rumah. 
"Nek..Adit berangkat sekolah dulu ya. Air minum dan makanan Adit sudah siapkan di sini." Kata Adit pada nenek Masnah yang terbaring di ranjang tua nya. Disebelah tempat tidur terdapat meja kayu tempat Adit biasa menyiaplkan botol minum dan makanan untuk nenek Masnah. Pagi ini hanya singkong rebus saja. Sambil mencium tangan nenek Masnah.
"Pergilah Nak..nenek berdoa pada Tuhan agar kau menjadi anak yang pandai." Balas nenek Masnah sambil mengelus kepala Adit dengan lembut.
*****
Untuk memenuhi biaya hidup Adit bekerja serabutan. Apa saja asalkan halal, begitu nasehat nenek Masnah. Kadang para tetangga ada yang memberi makanan pada keluarga kecil ini. Rumah gubuk nenek Masnah terletak diantara rumah penduduk. Hanya rumah merekalah yang masih berdinding bilik bambu. Listrik nya diberi tumpangan oleh Ibu Mia tetangga sebelah tanpa perlu membayar. Para tetangga disini semuanya memang baik-baik. 
"Adit..cepatlah pulang, nenekmu dia muntah-muntah tidak henti-hentinya." Kata pak Joko menyusul Adit yang sedang bekerja di tempat pak Anwar. Pak Anwar adalah penjual makanan khas daerah kami. Usahanya sedang maju-majunya. Saat ini dia sedang mendapat order dari daerah lain, sehingga memerlukan tenaga tambahan. Upahnya lumayan dibayarkan satu minggu sekali. Namun jika tidak ada order Adit hanya diam di rumah menunggu orang yang datang untuk meminta jasa tenaganya.
Dengan tergesa-gesa Adit segera pulang menuju rumahnya. Sekolah Adit jaraknya memang lumayan jauh. Tergopoh-gopoh Adit menemui nenk Masnah yang sudah sakaratul maut. Nafasnya tersengal-sengal menahan beban.
"Nek...nenek..nenek kenpaa?" Tanya Adit. Nenek memang punya penyakit paru-paru. Namun karena keterbatasan biaya, penyakit itu tak pernah diobati.
"Nenek tidak apa-apa nak, hanya lelah saja. Jadilah anak yang pandai dan berguna bagi sekitar. Jangan sombong dan jangan menyakiti orang lain." Begitu pesan nenek. Dengan senyum terakhirnya yang manis nenek Masnah pun meninggal dunia. Penuh ketenangan dan kebahagiaan karena dia telah mendidik cucunya dengan baik. 
"Nenek.........." Teriak Adit histeris, dengan memeluk nenek untuk terakhir kalinya. Para tetangga yang menyaksikan ikut pula menangis. Tak tahan menahan rasa haru atas kepergian nenek Masnah yang telah mereka kenla selama ini. 
Almarhum memang semasa hidupnya dikenal orang yang sangat baik, pekerja keras tak pernah meminta pada tetangga. Orangnyabringan tangan membantu siapaun meski hanya dibayar ala kadarnya saja. Nenek Masnah yang baik itu telah berpulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Selamta tinggal nenek..semoga kau tenang disisi-Nya. Amin.
*****
Sudah satu bulan nenek pergi meninggalkan Adit. Namun kesedihan itu belum hilang juga dari pikiran Adit. Rasa kehilangan oleh orang yang dia cintai.
"Adit..apa kau baik-baik saja?" Tanya bu Monik didalam kelas. Bu Monik adalah wali kelas Adit di kelas lima ini.
"Iya bu, Adit baik-baik saja." Jawab Adit. 
"Pulang sekolah nanti Adit ikut ibu Monik ke rumah ya, maukan?" Ajak ibu Monik. 
Dengan malu Adit menganggukkan kepalanya. Tanpa tahu kenapa ibu Monik mengajaknya main keumah.
Ibu Monik adalah warga baru dikampung kami. Beliau baru saja pindah bersama suami dan anaknya yang masih kecil: Lara nama anaknya. Usianya baru satu tahun. Dia tinggal bersama neneknya , ibu dari Ibu Monik. Pa Wawan, suami ibu Monik adalah seorang perwira polisi.
Rumah bu Monik sangat besar dan asri. Untuk ukuran kami dikampung terbilang megah. Adit duduk diteras rumah. Sambil menunggu bu Monik yang masuk kedalam rumah. Datanglah Lara dengan memakai roda berjalan menghampiri Adit. Gadis lucu itu langsung mengajak Adit bermain. Dengan rambut ikalnya dan senyum yang genit semakin menambah kelucuannya.
"Lara...ayo ketahuan ya nakal sama kakak Adit." Kata bu Monik keluar dari dalam rumah.
"Namanya siapa bu?" Tanya Adit.
"Namanya Lara. Bi...minumannya mana?" Kata bu Monik pada pembantu rumah tangganya. 
"Selamat siang...oh ini yang namanya Adit?" Datang nenek Lara , ibunya ibu Monik. 
"Iya bu.."
"Tampan ya...pandai lagi." Kata nenek Lara. Adit mencium tangan kanan nenek Lara. Adit hanya tersenyum dipuji seperi itu. Adit memang juara kelas. Semua kawan-kawannya senang pada Adit sebab dia selalu membantu kawan-kawannya belajar. 
"Begini Adit, ibu ingin meminta tolong pada Adit agar mau membantu ibu menjaga Lara dirumah, soalnya neneknya Lara minggu besok akan pulang ke Jakarta untuk mendampingi adik ibu yang sedang kuliah disana. Kasihankan adik ibu itu wanita jika ditinggal sendiri takut kenapa-napa." Terang bu Monik.
"Iya nak Adit, bukannya nenek tidak betah tinggal disini tapi nenek cemas jika meninggalkan anak gadis nenek swndirian dikota." Lanjut nenek Lara.
"Adit maukan? Adit masih bisa sekolah kok. Lagi pula kasihan bibi sumi tidak ada yang membantu. Lara sekarang semakin susah diawasi dit." Kata bu Monik.
"Adit mau bu, kebetulan Adit sedang tidak ada pekerjaan." Kata Adit dengan senangnya. Dia mulai menyukai gadis kecil ini yang minta untuk digendong.
"Tuh lihat dit, Lara saja senang pada Adit, ya kan sayang." Kata nenek Lara pula.
Mereka terawa bersama sambil menggoda Lara.
Gubuk tua ini adalah saksi kisah Adit dan nenek Masnah. Adit akhirnya tinggal bersama ibu Monik dan keluarganya. Keluarga yang telah menganggapnya sebagai anak kandung mereka sendiri. Adit datang ke gubuk ini saat libur sekolah saja. Adit menolak saat gubuknya ingin diperbaiki oleh bu Monik dan pak Wawan. Ya, kini Adit sudah duduk di sekolah lanjutan umum.
"Nenek..Adit datang mengunjungi nenek. Semoga nenek bahagia dirumah nenek yang baru di langit sana." Bisik Adit lirih sambil menaburkan bunga diatas pusara nenek Masnah. Angin semilir menerpa wajah Adit dengan lembut. Nenek Masnah pasti melihatnya dengan gembira, doanya ternyata tidak sia-sia. Kini, cucu kesayangannya telah menjadi anak yang pandai dan berguna bagi banyak orang.