Kamis, 15 Januari 2015

Kisah Sebuah Lukisan

Bintang berjalan perlahan, menyusuri jajaran lukisan yang dipajang di dinding. Seperti biasa, setiap minggu Bintang selalu mengunjungi Galeri Lukisan ini. Tak bosan-bosan memandangi lukisan yang pernah dia amati sebelumnya. Dia melihat ada satu lukisan baru yang dipajang di sudut utara Galeri. Bintang berjalan menuju tempat lukisan yang baru digantung di dinding itu. Dengan seksama, Bintang mengamati lukisan itu. Lukisan seorang kakek berkacamata yang sedang menulis, di sebelah kirinya ada seorang bocah lelaki yang mengenakan seragam putih merah.
Lama..., Bintang mengamati lukisan ini cukup lama. Beberapa saat kemudian, ada seorang pemuda berdiri di samping kirinya. Bintang tetap bergeming.
“Si Kakek sedang menggambarkan sesuatu untuk anak itu.” Si Pemuda mengeluarkan suaranya.
“Bisa saja dia sedang menulis, bukan?” jawab Bintang, tetap tidak menoleh. Mengkritisi pernyataan sok tahu si Pemuda.
“Tidak, dia sedang menggambar untuk anak itu. Bocah yang mengenakan seragam SD itu.”
“Dia sedang menggambar apa?”
“Jadi, suatu hari, Si Bocah pulang sekolah. Dia mendapatkan nol untuk ujian matematikanya. Dia takut akan dimarahi oleh bapaknya. Saat waktu pulang sekolah tiba, dia tidak langsung pulang sekolah. Dia duduk di pinggir lapangan, di atas pohon yang tumbang. Meratapi nilai sekolahnya yang buruk. Menangis. Kemudian datang seorang lelaki tua. Duduk di sampingnya.”
“Lalu...?” Bintang menoleh ke arah kirinya. Pemuda itu ikut menoleh menghadap ke wajah Bintang.
“Si Kakek itu mengambil kertas ujian yang berada di tangan si Bocah. Kemudian mengeluarkan pensil, dan memulai menggambar sesuatu di atas kertas itu. Setiap angka yang ada di atas kertas, dia hubung-hubungkan menjadi gambar yang luar biasa. Membuat di anak kecil itu terpukau.”
“Apa yang digambar olehnya?” tanya Bintang yang mulai penasaran.
“Rahasia.”
“Well, anda memang pengarang cerita yang hebat. Siapa nama anda? Seharusnya anda jadi penulis!” kata Bintang yang agak kesal dengan jawaban si Pemuda. Merasa tertipu.
“Saya tidak mengarang cerita. Nama saya Awan Tenggara.” Si Pemuda tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Bintang.
Mata Bintang mengikuti arah perginya Awan.
'Dasar, ngawur!' pikir Bintang.
Kemudian dia kembali mencermati lukisan di hadapannya. Di bagian bawah kanan lukisan ada sebuah catatan dan tanda tangan pelukis.
‘Ini adalah kali pertama saya mengenal dunia.
Dunia saya saat ini.
Melihat deretan aritmatika berubah wujud
menjadi mahakarya mempesona.
Awan Tenggara.’
Bibir bawah Bintang seketika terbuka, dan tangannya perlahan mulai menyentuh bibir. Dia menoleh ke arah seluruh ruangan, mencari di mana pemuda itu. Nihil.

Senin, 12 Januari 2015

Rumus Dalam Kehidupan

"Ji, cepat kemasi barang-barangmu," seru ibu seraya sibuk mondar-mandir.
Selepas kepergian kakek empatpuluh hari yang lalu, membuatku harus meninggalkan rumah penuh kenangan ini. Tinggal kotak kayu yang sengaja kakek buat untukku. Kotak impian katanya.
Kubuka kotak kayu yang hampir terlupakan itu. Ada secarik kertas usang terlipat-lipat yang terbuat dari pelepah pohon pisang. Tulisan khas kakek. Aroma khas kakek.
"Itu apa, Kek?" tanyaku penasaran.
"Mau baca?"
"Panji kan, belum bisa baca, Kek." Aku menekuk wajah.
"Yo, wes, bacanya nanti saja. Kalau Panji sudah pandai membaca." Kakek tersenyum simpul.
"Bisa nggak, kakek bacakan itu untuk Panji sekarang?" pintaku penasaran.
"Sini, duduk di sebelah kakek." Kakek mulai duduk dan mengenakan kacamatanya.
"Rumus Kehidupan," ucap kakek tegas.
"Apa itu?"
"Dengarkan dulu." Mata kakek berkedip-kedip.
"Iya, Kek."
"Pertama. Hukum Gravitasi. Pijakkan kaki di bumi meskipun Panji dalam keadaan sangat senang. Karena, bila Panji melompat terlalu tinggi karena kegirangan, Panji akan tetap ditarik kembali ke bumi. Rendah hatilah dalam keadaan apapun." Kakek memperagakan dengan kedua tangannya.
Aku memasang wajah bingung dan sesekali mengangguk, lalu menggelengkan kepala. Aku tidak mengerti maksud kakek.
"Lalu, Usaha = gaya x perpindahan. Usaha adalah hasil kali gayamu dan perpindahan yang kaucapai. Seberapa besar pun gaya yang Panji berikan, namun bila Panji tidak semakin maju, maka usaha Panji adalah nol."
Kakek semakin membuatku mengernyitkan dahi. Ia tersenyum memandangiku.
"Yang berikutnya, Tekad/Potensi, seperti Persamaan : E = M X c^2 (Rumus Relativitas Einstein). Setiap insan memiliki cahaya (c), pada dirinya. Dengan kuatnya tekad/cahaya, maka akan mengkuadratkan Kekuatan Energi (E) pada dirinya, untuk menghasilkan cita-cita yang ingin dicapainya. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ALAM NASYRAH (5-6)."
'Hoaaam!'
Aku mulai mengantuk mendengarnya.
"Jangan tidur," seru kakek.
"Terakhir itu, apa ini?" Kakek berusaha membaca tulisannya. Pandangannya sedikit kabur. "Energi total= Energi kinetik + Energi potensial. Dalam mewujudkan impian, Panji hanya memiliki dua pilihan: terus melakukan gerak atau tetap diam. Semakin besar energi gerakmu ke 'diaman’ kamu akan berkurang.
Lakukan bukan menunggu! Oke???" Kakek mengedipkan matanya sebelah dan mengangkat jempolnya.
"Sudah?"
"Sudah." Kakek melipat kertas itu menjadi lipatan yang lebih kecil lalu memasukkannya ke kotak.
"Terdengar cukup menarik, dan ilmiah." Aku menjentikkan jariku.
"Ilmiah? Apa itu?" tanya kakek seraya meledek.
"Hmmm, kakek. Biasanya, kan, kakek bilang gitu," ucapku malu.
Kakek terkekeh dan mengelus-elus kepalaku.
Aku mungkin tidak terlalu faham hubungan antara rumus Fisika itu dengan rumus kehidupan yang ingin kakek sampaikan. Tapi, kakek yang seorang Ilmuwan itu, terlihat senang dengan rumus yang baru saja ia bacakan.
"Panji, cepat naik ke mobil! Keburu malam," seru ibu membuyarkan lamunanku.

Sabtu, 10 Januari 2015

Puisi Indah

"Kung! aku nggak mau belajar ini! Susah!" sungut Aji sambil melempar salah satu bukunya ke meja.
Akung yang bertelanjang dada, tengah 'leyeh-leyeh' hampir terpejam, seketika terbuka matanya. Segera dimatikannya lantunan 'uyon-uyon' dari 'ipod' berwarna hitam, hadiah 'ambal warsa' yang ke tujuh puluh dari anak-anaknya.
"Masuk rumah, kok, seperti 'pithik'? Nyelonong nggak pake salam, Le?" canda Akung.
"Ini, Kung. Di sekolah tadi pelajaran aksara Jawa. Susah!" lapor Aji yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Ha Na Ca Ra Ka...," sahut Akung sembari membuka buku yang tadi dilempar Aji, cucunya yang berumur sepuluh tahun itu.
"Mending belajar huruf Jepang. Keren!"
"Aksara Jawa juga keren. Belum lagi aksara dari daerah lainnya. Indonesia ini 'sugih', Le!"
"Ah, 'jadul'! Sama kayak Akung!" ledek Aji, "Coba lihat kartun-kartun Jepang itu, ceritanya hebat-hebat!" sambung Aji lagi.
"Sini, Akung ceritakan tentang asal mula aksara Jawa. Ceritanya nggak kalah menarik sama kartun-kartun Jepangmu itu, Le!" sahut Akung sembari mengambar di buku tadi.
"Seorang pemuda tampan mengembara di sebuah kerajaan yang rajanya kejam dan suka makan daging rakyatnya. Pemuda ini tergugah dan ingin menolong," kata Akung sambil membuka 'udeng' di kepalanya.
"Terus?" sela Aji penasaran melihat Akung malah menghamparkan 'udeng' tersebut.
Akung tersenyum dan menggambar lagi.
"Pemuda itu bilang ke raja, bersedia menjadi santapan dengan syarat diberi tanah seluas ikat kepala sang raja," kata Akung, "permintaannya langsung disetujui dan raja
mulai mengukur tanah dengan ikat kepalanya," lanjut Akung.
"Gitu aja, Kung?"
"Ikat kepalanya jadi meluas, hingga mendorong sang raja tercebur ke lautan. Raja tersebut menjadi buaya putih!"
"Waaahhh..., pemuda itu, Kung?"
"Pemuda itu menggantikan raja yang kejam itu!"
"Keren..., jadi raja!"
"Cita-citamu jadi apa, Le?"
"Jadi presiden, dong!"
"Kalau jadi presiden jangan suka makan daging rakyatnya, jangan buat rakyat sengsara seperti raja yang kejam itu!"
"Harus!" seru Aji bersemangat, "Lanjutannya, Kung?"
"Karena menjadi raja, pemuda ini mengutus seorang abdi untuk mengambil pusakanya yang dijaga satu abdi yang lain. Kedua abdi itu berperang dan mati memperebutkan pusaka yang seharusnya diambil pemuda itu sendiri," ujar Akung.
"Abdi yang disuruh menjaga pusaka itu sebelumnya sudah diberi amanat, ya, Kung?"
"Iya, abdi itu diberi amanat untuk tidak memberikan pusaka itu ke siapapun, kecuali pemuda itu."
"Kasihan kedua abdinya mati," sahut Aji.
"Begitulah. Karena itu hati-hati dengan amanat," sambung Akung, "Menyesal telah membuat kedua abdinya meninggal, kemudian pemuda itu membuat puisi."
"Puisi...?"
"Betul. Puisi yang sekarang dikenal dengan hanacaraka itu."
"Wow! Hanacaraka itu awalnya puisi, Kung? Keren!"
"Iya, kemudian berkembang menjadi aksara Jawa ini," kata Akung sambil menunjuk tulisan di buku Aji.
"Waaah.... Eh, pemuda itu siapa namanya, Kung?"
"Namanya..., Ajisaka! Persis seperti namamu!" jawab Akung.
"Wooowww...!"
Ajisaka merasa bangga luar biasa.

Kamis, 08 Januari 2015

Hanna Kecil

 “Makanya aku bilang kau payah!”
Hana berlari meninggalkanku setelah menjeritkan kalimat itu, masuk ke dalam Hutan Bernyanyi tanpa menengok sekali pun.
Payah katanya. Aku menyebutnya realistis. Keajaiban ini, keajaiban itu, tak bisakah dia belajar untuk membuka mata? Semua itu omong kosong. Untuk apa kerja keras jika ada keajaiban?
Aku menatap arah Hana berlari, dia sudah tidak terlihat, menghilang di balik batang pohon dan dedaunan. Si bodoh itu … mau sejauh apa dia masuk ke dalam hutan?
Sial, tidak tahukah dia hari apa ini? Pertengahan bulan seperti ini, serigala sering muncul untuk berburu. Dan bocah cerewet pemimpi itu jelas takkan tahu bagaimana cara menghadapinya.
Aku berlari memasuki hutan. Jejak Hana masih jelas, dan aku cukup kenal hutan itu, tapi jika dia masuk terlalu dalam …
Aku berlari lebih cepat. Bodoh. Hana, kau bodoh. Gunakan sedikit otakmu. Kenapa selalu membuatku repot begini?
Rumput yang terinjak, ranting dan daun yang patah, jejak Hana mulai tampak berputar-putar. Dari itu saja aku tahu dia tersesat. Jika ini bukan tengah bulan, mungkin bagus membiarkannya beberapa jam, agar dia mengerti hutan bukan halaman belakang rumahnya. Dia tak bisa masuk seenaknya tanpa persiapan apa-apa. Dan semua omong kosongnya tentang keajaiban, dia akan lihat itu tak bisa menolongnya.
Sekilas kulihat sesuatu bergerak di balik bayangan. Matanya tampak mengkilat tajam. Tapi dia tidak tertarik padaku. Bergerak cepat ke depan. Mereka bisa merasakan buruan yang lemah, artinya ada yang lebih menarik perhatian mereka daripada aku.
Aku harus cepat.
Serigala itu melesat, aku tak bisa mengejarnya. Perlahan, sedikit demi sedikit aku tertinggal. Dan, serigala itu hilang dari pandanganku.
Sulit untuk menemukan jejaknya lagi setelah serigala itu hilang dari pandangan. Sedangkan jika mengikuti jejak Hana yang jelas berputar-putar tidak jelas, aku akan terlambat.
Sial.
Untuk beberapa waktu aku berusaha menemukan jejaknya, namun aku tak bisa menemukannya. Ini buruk.
Saat itulah aku mendengarnya. Samar, meski itu tidak lebih keras dari desir angin, aku mendengarnya. Aku mengenalinya. Suara Hana, memanggil namaku.
Seketika aku berlari. Kudapatkan arahnya, kulihat jejaknya dan saat aku sampai di sana, Hana sedang ditindih oleh serigala besar.
Kuraih batu dan kulemparkan sekuat tenagaku ke tubuh serigala itu hingga makhluk itu mengerang kesakitan. Meloncat, melepas Hana yang terbaring di tanah.
Ayahku pernah mengajariku. Untuk menghadapi serigala di Hutan Bernyanyi, aku harus tenang. Jangan perlihatkan rasa takut, tatap matanya. Dan jangan pernah berkedip.
“Pergi,” kataku.
Serigala itu perlahan mundur. Sedetik kemudian, dia berbalik dan berlari pergi.
Kuhela napas lega. Jika itu gagal, aku tak tahu harus melakukan apa.
Kutatap Hana. Dia tampak menyedihkan. Terluka dan kelihatannya tak bisa berdiri. Aku ingin berkata padanya, apa sekarang dia puas? Tapi kubatalkan.
Kuharap dia belajar tanpa aku harus berkata apa pun.

Selasa, 06 Januari 2015

Kura-Kura Laut

“Rion!” 
Aku menarik lengan Rion, cepat-cepat membawanya ke pantai.
“Apa, sih, tarik-tarik?!” protes Rion.
“Berisik!” jawabku, terus menariknya dan mempercepat lariku. “Kau harus lihat ini!”
“Menye—,” kaki Rion tersaruk pasir, “—balkan!” ujarnya, terdengar kesal.
Aku tidak peduli. Terus menariknya dengan penuh semangat. Bibirku bahkan tidak bisa berhenti tersenyum lebar. Angin laut yang lengket dan amis masuk ke mulutku tapi aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah sampai di tempat ‘itu’ segera!
“Hana,” Rion memanggil, kuabaikan.
“Hana,” panggilnya sekali lagi.
“Cepat, cepat,” kataku tak sabar. Kami hampir sampai dan pasir tebal di bawah kaki kami membuat langkah-langkah cepat kami makin berat.
“Ini manis sekali,” aku menarik Rion lebih semangat lagi. “Tadi aku sedang jalan-jalan sepanjang pantai dan aku menemukannya di ujung sana!”
“Menemukannya?” Rion mengulangi, terdengar ragu.
“Bayi kura-kura! Ratusan!” sahutku, terus berlari. “Bukankah itu manis?”
“Kau tahu,” katanya, “pendapatmu tentang sesuatu yang manis itu biasanya bias.”
Omong kosong. Aku tahu bagaimana membedakan sesuatu itu manis atau tidak. Dan, ini benar-benar manis! Tadi sewaktu aku jalan-jalan—ralat, sebenarnya tadi aku sedang marah dengan Rion karena dia—seperti biasanya—menyebalkan, dan menghabiskan waktu dengan menyusuri pantai dari ujung barat terus ke timur sementara Rion sibuk membaca peta, secara tak sengaja kulihat pasir tak jauh dari tepian pantai tiba-tiba amblas, membentuk kawah kecil. Karena penasaran, aku mendekat. Di situ, kulihat pecahan seperti cangkang telur kecil, dan kura-kura kecil yang manis merangkak naik, berusaha keluar dari kawah itu. Puluhan, mungkin ratusan bayi kura-kura! Mereka merangkak pelan, seperti berbaris menuju pantai, menuju lautan! Bukankah itu manis sekali? Jadi, cepat-cepat aku kembali ke tempat Rion, menariknya agar melihat ini.
“Lihat!” kataku, berhenti berlari dan menunjuk kawah kecil, sarang kura-kura yang kulihat tadi. Beberapa bayi kura-kura masih merangkak pelan.
“Manis sekali, kan?” Aku berjongkok, mengambil satu bayi kura-kura yang lewat dekat kakiku dan mengangkatnya di telapak tanganku. Kembali berdiri, aku menunjukkannya di depan Rion.
“Aku baru tahu bayi kura-kura selalu menuju ke laut ketika menetas.” Kuletakkan kembali bayi kura-kura di tanganku. Begitu menjejak pasir, bayi mungil itu langsung merangkak menuju pantai. Manis sekali!
“Hana,” Rion mendesah, “kau membawaku lari-lari hanya untuk ini?”
Hanya, katanya? Ini manis sekali!
Aku menatapnya galak. Orang yang satu ini benar-benar tidak mengerti apa pun.
“Lagipula,” katanya, “itu bukan bayi kura-kura. Itu bayi penyu.”
“Eh?” Aku mengerjap. Rion berbalik dan mulai berjalan cepat meninggalkanku.
“P-penyu? Apa itu? Kura-kura laut?”
“Berisik!”
“Rion, tunggu!” Aku berlari menyusul Rion, tapi dia justru mempercepat langkahnya. Padahal, aku memerlukan jawabannya tentang apa itu penyu.
Ugh, menyebalkan!

Selasa, 30 Desember 2014

Gendis

Apa yang hendak kuceritakan di sini? Seorang wanita buta yang memangku rembulan? Tidak.Kesannya tidak seflamboyan itu. Menarik. Itulah satu kata sederhana yang menggambarkan seperti apa dirinya.
Saat itu aku sedang makan di angkringan Kang Irul ketika kemudian dia mencomot gorengan dari tumpukan.
“Gimana tugas buat besok?”
“Eh, maaf?”
“Tugas statistik. Kita sekelas, bukan?”
Aku tahu betul kami ambil mata kuliah yang sama. Apa yang membuatku terkejut adalah kenyataan bahwa gadis dengan reputasi sangat angkuh, sudi menyapaku lebih dulu.
Apa yang terjadi di bawah payungan tenda biru angkringan Kang Irul sore itu, mengubah persepsiku mengenainya. Entah bagaimana caranya, obrolan mengalir sedemikian lancar saat itu dan hari-hari selanjutnya. Penilaian kawan-kawanku ternyata keliru, Gendis bukanlah seperti yang mereka pikirkan. Dirinya seperti kamus berjalan, segala hal ia ketahui. Dari Lenin sampai keluarga Bakrie, Shakespeare sampai Goenawan Mohammad, sebut saja. Apa yang kutangkap darinya adalah keganjilan dari simbol Bulan Trilipat; sosoknya masih gadis tapi kedewasaannya sampai pada fase nenek yang menggambarkan kebajikan dan ketenangan.
Dia seolah menutup mata pada remeh temeh kehidupan mahasiswi seumurannya yang kerap disibukkan dengan baju bagus atau dandanan genit. Jika dirinya diwakilkan oleh Mumtaz, maka aku lebih menyukai kisah mengenai Taj dalam versi drama yang disutradarai M Sayeed Alam. Bahwa Taj adalah monumen untuk mengingatkan betapa dirinya merupakan sosok tangguh yang harus ditaklukan, dan untuk itu Shah Jahan harus menatapnya dengan gentar dan gemetar.
Gendis membuatku tak berdaya sekaligus bergairah dalam waktu yang sama.
“Tehnya lagi, Nang?”
Suara Kang Irul membuyarkan lamunanku. Kuiyakan tawaran Kang Irul, sementara ingatanku mengembara pada kejadian dua hari lalu.
“Kau mau jadi pacarku?” tanyaku langsung saat dia sedang memilih baju batik. Dia menatapku tajam sebelum dengan enteng menimpali.
“Bukankah dengan modal tampang ‘bagusmu,’ kau bisa ngedapetin Sheila, si bintang kampus?”
“Sebenarnya … aku pernah jalan sama dia.”
“Ohhh … Don Juan,” ledeknya sinis bercampur jahil.
“Don Jon tepatnya.” Aku meringis sedangkan dia membelalak sebelum terbahak. Tawanya keras sekali seperti preman Tanah Abang. Kubiarkan dia tenggelam dalam gelak, sungguh pemandangan yang nikmat. Setelah beberapa saat dan perhatian para pejalan Malioboro tidak terarah lagi padanya, akhirnya dia berkata.
“Bukan tawaran mudah.”
“Maksudmu?”
“Aku perlu waktu berpikir.”
Sorot matanya saat mengatakan hal itu membuatku gemas dan takut. Patah hati merupakan hal paling mengerikan bagiku yang jarang menerima penolakan. Sisa waktu selanjutnya kuisi dengan kecanggungan luar biasa, namun tidak bagi gadis satu ini, tidak ada hal yang membebaninya nampaknya. Dia memintaku untuk menunggu, dan pesan singkatnya tadi pagi, membuatku kelabakan bukan main.
Satu tepukan pada punggung membuatku menoleh.
“Lama nunggunya?” Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihatnya. Kemudian dia duduk di sebelahku.
“Jadi gimana?” Kukutuki suaraku yang serak.
“Aku gak bisa jadi pacarmu,” katanya datar. Secepat remuknya hatiku, secepat itu pula dia membuatku melayang.
“Mulai saat ini, kau harus berkomitmen untuk jadi calon suamiku. Suami merupakan kata kelam dalam kamus hidupku.”
Aku bisa sedikit mengerti apa yang ia maksudkan. Kesedihan dalam kalimatnya adalah masa lalunya, dan aku bersumpah untuk tidak mengecewakannya. Kugenggam tangannya, dan dia menatapku dengan lembut.

Minggu, 28 Desember 2014

Kisah Cinta Putri Nikirana

Negeri Kincir itu berdiri megah di atas awan. Lampu kristal menghias indah mengelilingi istana. Sebuah kamar dirancang khusus, dindingnya penuh ukiran wajah seribu bidadari. Dengan balutan selendang sutera seolah-olah mengajak menari menghibur diri, sepanjang hari. Di depan istana ada taman yang mahaluas, rimbun penuh bunga melati.
Tetapi, semua itu tidaklah membuat Putri Nikirana bahagia. Sang Raja, tak lain adalah Ayahandanya. Selalu melarang jika ia hendak turun ke bumi.
”Ayahandaku, izinkanlah Ananda untuk pergi ke telaga cinta bawah sana.” Putri Nikirana menitikkan air mata saat permintaannya tak dikabulkan.
”Bukankah sudah kubuatkan kolam indah seperti telaga cinta itu. Kenapa masih ingin ke bumi yang gersang tanpa pepohonan meneduhkan?” jawab Sang Ayah sembari menikmati teh melati bikinan Sang Permaisuri.
”Ibunda, Ananda ingin berjumpa dengan Legawa.” Kini ia beralih meminta izin dari Ibundanya.
”Dengarlah, Sayang. Sungguh, di bumi itu orang-orangnya licik. Mereka akan menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkanmu. Ingatlah! Kau adalah milik kami. Ayahandamu sangat menyayangimu.”
Setelah mendengar penuturan Ibundanya, Putri Nikirana semakin bersedih. Tak ada harapan lagi, pikirnya. Setiap hari ia hanya mengurung diri di kamar yang sepi. Senyum ceria seribu bidadari tak mampu mengobati luka hatinya.
Musim penghujan tiba. Di langit mendung-mendung itu bergelantung manja. Mereka memainkan anak-anak awan, menyatukannya menjadi gumpalan-gumpalan hitam berisi hujan air mata yang siap dijatuhkannya ke bumi. Dalam sedu-sedannya ia teringat akan janji pada Legawa.
’Ia bersedia menghabiskan hari-hari bersama.’
Pertemuan yang tak disengaja sebulan yang lalu, saat Putri Nikirana diajak Ayahandanya untuk mencari ramuan awet muda. Di saat melintasi hutan semak berduri. Kaki kuda yang membawa kereta kencana mereka tertancap duri hingga keretanya hampir terguling di sisi telaga cinta. Saat itu Legawa sedang mengumpulkan semak-semak kering yang akan dibawanya pulang untuk membuat perapian kala malam tiba. Ia melempar keranjang yang hampir penuh dengan semak keringnya itu. Ditariknya kereta kencana yang hampir saja terjebur ke dalam telaga.
”Hai, manusia bumi. Apa yang kauingini? Karena kau telah menolong kami. Maka semua permintaanmu akan kukabulkan.”
”Tidak, Tuan. Aku tak menginginkan apa-apa,” jawab Legawa memberikan senyum termanisnya. Saat itu Putri Nikirana tersentuh hatinya. Baru pertama menjumpai orang berhati suci. Membantu tanpa mau dibalas.
Sang Raja punya kelebihan, mampu menebak isi hati. Ia tahu Putri tercintanya telah menjatuhkan hati pada manusia bumi. Maka dengan segala cara ia berusaha menghalangi pertemuan mereka.
Salah satu cara untuk bisa menghentikan kekhawatiran akan putrinya adalah menjodohkannya dengan putra tunggal dari Raja Negeri Angin. Kebetulan Raja Negeri Angin sedang mencari menantu. Maka kesepakatan dua raja ini menyatukan putra-putri mereka. Juga menyatukan Negeri Kincir Angin.
Mengetahui ia telah dijodohkan tanpa persetujuan. Putri Nikirana mengunci diri.
’Ayahanda, Ananda tidak mau dipersunting selain Legawa. Ananda tahu, Ayahanda telah membinasakan Legawa saat ini. Ibunda telah menceritakan semuanya. Maka dari itu biarlah sekarang aku menjadi sabit di malam-malammu. Hanya di malam purnama kuizinkan engkau menjumpaiku. Saat itu, Ananda akan datang menerangi hatimu yang penuh kegelapan.’
Saat Sang Raja kembali dari bumi ia mendapati putrinya tergantung dengan selendang sutera dari salah satu bidadari yang diukirnya sendiri.